ady suwanda on December 23rd, 2015
Arsenal merupakan rival sekota sekaligus salah satu musuh bebuyutan Chelsea dalam memperebutkan gelar Liga Premier Inggris.

Arsenal merupakan rival sekota sekaligus salah satu musuh bebuyutan Chelsea dalam memperebutkan gelar Liga Premier Inggris.

Pada bursa transfer musim panas ini, salah satu kiper terbaik Liga Premier Inggris, Petr Cech mengejutkan dunia dengan keputusannya meninggalkan klub yang dibelanya selama 11 tahun, Chelsea.

Semakin mengejutkan ketika dia memilih Arsenal sebagai klub barunya. Arsenal merupakan rival sekota sekaligus salah satu musuh bebuyutan Chelsea dalam memperebutkan gelar Liga Premier Inggris.

Petr Cech (MOHD FYROL / AFP)

Petr Cech (MOHD FYROL / AFP)

Kiper yang memilih nomor punggung 33 di jersey Arsenal itu dibeli tim asuhan Arsene Wenger dengan mahar sebesar Rp 230 miliar.

Keputusan Cech bergabung dengan Meriam London (sebutan Arsenal) masih disesalkan oleh gelandang Chelsea, Nemanja Matic. Dia menjadi pemain The Blues (julukan Chelsea) pertama yang mengungkapkan kekecewaannya.

061893700_1435594172-petr_cech

“Cech merupakan orang dan kiper yang hebat. Tentu saja, kedatangannya menjadi sangat penting bagi Arsenal. Saya tidak senang dengan keputusan itu,” ucap Matic, seperti diberitakan Standard.

“Kami tahu dia sangat profesional. Dia adalah salah satu kiper terbaik. Padahal, saya berharap dia tidak mengambil keputusan ini setelah 11 tahun yang dia lakukan untuk Chelsea,” tambah gelandang berusia 26 tahun tersebut.

2452

Guus Hiddink has addressed the full Chelsea squad for the first time and stressed that opportunities to win a competition this season and even climb into the upper reaches of the Premier League remain, despite their traumatic title defence.
Pat Nevin apologises to Chelsea’s Cesc Fàbregas for targeting midfielder
Read more

The former Holland and Russia manager, who signed a six-month contract in the wake of José Mourinho’s dismissal last week and met some of the players at Stamford Bridge on Saturday, oversaw the first full training session of his second spell in interim charge on Tuesday. He was assisted by Steve Holland and Eddie Newton for the floodlit afternoon drills, geared towards preparing for the visit of Watford on Boxing Day, but had gathered the players and staff in a briefing room prior to training to discuss the season’s remaining targets.

The tone of his message was upbeat, pointing to the positives he had witnessed in Saturday’s victory over Sunderland, and urging all to focus on the objectives that can still be met. While Chelsea languish in 15th in the Premier League table, the nine defeats suffered in 16 games having cost Mourinho his job, they are 11 points off the top four with 21 matches still to be played and the cluttered programme over the festive season offers them a chance to recover some ground. A Champions League knock-out tie against Paris Saint-Germain awaits in February, with Scunthorpe of League One to visit Stamford Bridge next month in the third round of the FA Cup, a trophy Hiddink won in his previous spell back in 2009.

Newton, who has been heavily involved in scouting the club’s many players out on loan since a spell as Roberto Di Matteo’s assistant in 2012, will remain on the first-team coaching staff and one of his duties will be to ensure greater involvement for those academy graduates whose senior careers appeared to stagnate under Mourinho.

The hope is the likes of Ruben Loftus-Cheek and Ola Aina will gain more game-time in the first team and while Jamal Blackman is expected to join Standard Liège on loan, the Belgian midfielder Charly Musonda may remain at the club in January. Feyenoord, Queens Park Rangers and AZ Alkmaar are among the clubs who have scouted the 19-year-old in recent weeks aspiring to secure him on loan next month.

Pertanyaan: Dapatkah orang-orang di surga melihat ke bawah dan melihat kita yang masih ada di bumi?

Jawaban: Ibrani 12:1 menyatakan, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita …” Sebagian orang menafsirkan “saksi yang bagaikan awan” sebagai orang-orang yang memandang ke bawah kepada kita dari Surga.

Ini bukan penafsiran yang benar. Ibrani pasal 11 mencatat orang-orang yang imannya dipuji oleh Allah. Orang-orang inilah yang merupakan “saksi yang bagaikan awan.” Mereka itu “saksi” bukan karena mereka sedang memperhatikan kita, tetapi karena mereka telah menjadi contoh bagi kita … mereka itu merupakan saksi bagi Kristus, Allah dan kebenaran.

Ibrani 12:1 selanjutnya menyatakan, “marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”

Alkitab tidak secara khusus menyatakan apakah orang-orang di surga dapat memandang ke bawah kepada kita yang masih di bumi. Besar kemungkinan mereka tidak bisa.

Mengapa? Pertama, kerap kali mereka akan melihat kita berdosa. Kedua, kadang kala mereka akan melihat hal-hal yang akan mendukakan mereka. Ketiga, orang-orang di surga sibuk dengan urusan menyembah Allah dan menikmati kemuliaan surga sehingga mereka tidak akan punya minat kepada apa yang terjadi di atas bumi lagi.

Karena mereka sudah bebas dari dosa, sudah ada di surga dan berada di hadapan Allah, semua ini sudah cukup untuk membahagiakan mereka.

Walaupun, mungkin saja bagi Allah untuk mengijinkan orang-orang di surga memandang ke bawah kepada orang-orang yang mereka kasihi. Namun, Alkitab tidak memberi alasan untuk percaya bahwa hal ini betul-betul terjadi.

Baca lebih lanjut: http://www.gotquestions.org/Indonesia/Surga-melihat-bawah.html#ixzz3v6eIgv3k

ady suwanda on December 23rd, 2015

Pertanyaan: Apakah langit baru dan bumi baru itu?

Jawaban: Banyak orang memiliki pengertian yang salah mengenai bagaimana sebenarnya Surga itu. Wahyu pasal 21-22 memberi gambaran detil mengenail langit baru dan bumi baru. Setelah akhir zaman, langit dan bumi sekarang ini akan berlalu dan digantikan dengan langit baru dan bumi baru.

Tempat kediaman yang kekal bagi orang-orang percaya adalah bumi yang baru. Bumi baru adalah “surga” di mana kita akan melewatkan kekekalan. Di bumi baru inilah Yerusalem yang baru, kota surgawi itu terletak. Di bumi yang baru inilah gerbang mutiara dan jalan yang terbuat dari mas akan ditemui.

Surga – bumi yang baru – adalah tempat fisik di mana kita semua akan berdiam dengan tubuh fisik yang sudah dimuliakan (lihat 1 Korintus 15:35-58). Konsep bahwa surga itu “ada di awan” tidaklah alkitabiah. Konsep bahwa kita akan menjadi “roh-roh yang melayang-layang di Surga” juga tidak alkitabiah.

Surga yang orang-orang percaya akan alami adalah planet yang baru dan sempurna di mana kita akan berdiam. Bumi yang baru akan bebas dari dosa, kejahatan, penyakit, penderitaan dan kematian. Kemungkinan bumi yang baru itu akan mirip sekali dengan bumi kita sekarang, atau bahkan merupakan penciptaan kembali bumi kita sekarang – namun tanpa kutukan dosa.

Bagaimana mengenai langit baru? Penting untuk diingat bahwa dalam pemikiran kuno, “langit” menunjuk pada langit dan angkasa luar serta tempat kediaman Allah.

Jadi, ketika Wahyu 21:1 merujuk pada bumi baru, kemungkinan yang dimaksud adalah seluruh alam semesta akan diciptakan kembali, bumi yang baru, langit baru, angkasa luar yang baru.

Nampaknya, “surga” juga akan diciptakan kembali untuk memberi alam semesta ini suatu permulaan yang baru, baik secara fisik maupun rohani.

Di dalam kekekalan dapatkah kita memiliki akses ke surga yang baru itu? Mungkin, … namun kita perlu menunggu. Mari kita mengizinkan Firman Tuhan membentuk pengertian kita mengenai surga.

Baca lebih lanjut: http://www.gotquestions.org/Indonesia/langit-baru-bumi.html#ixzz3v6dh28kk

ady suwanda on December 23rd, 2015

Pertanyaan: Apa yang terjadi setelah kematian?

Jawaban: Di dalam kekristenan, ada cukup banyak simpang siur mengenai apa yang terjadi setelah kematian.

Ada yang menyakini bahwa setelah meninggal, roh setiap orang akan “tertidur” sampai dengan hari Penghakiman Terakhir, ketika semua orang akan dipilah-pilah untuk dikirim ke surga atau neraka.

Ada juga yang percaya bahwa pada saat meninggal, manusia langsung dihakimi dan dikirim ke tempat tujuan kekalnya. Ada juga yang mengklaim bahwa ketika orang meninggal, roh/jiwa mereka dikirim ke neraka atau surga “sementara,” sambil menunggu kebangkitan akhir, penghakiman agung, dan kepastian tempat tujuan akhir mereka.

Jadi, apa yang dikatakan Alkitab tentang nasib manusia setelah meninggal?

Pertama, bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Alkitab menyatakan bahwa setelah kematian, roh/jiwa orang-percaya dibawa ke surga karena dosa mereka telah diampuni; karena mereka sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat (Yohanes 3:16,18,36).

Bagi orang-percaya, kematian digambarkan “beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korintus 5:6-8; Filipi 1:23). Akan tetapi, di ayat seperti 1 Korintus 15:50-54 dan 1 Tesalonika 4:13-17 justru menggambarkan orang-percaya dibangkitkan dan diberi tubuh yang mulia.

Jika orang-percaya pergi untuk bersama Kristus setelah kematian, apakah tujuan kebangkitan tersebut? Menurut tafsir kami, walaupun roh/jiwa orang-percaya pergi untuk bersama dengan Kristus setelah kematian, tubuh jasmani mereka berdiam di kubur “tertidur.” Pada kebangkitan orang percaya, tubuh jasmani mereka dibangkitkan, dimuliakan, dan dipersatukan kembali dengan roh/jiwa.

Persatuan kembali antara roh-jiwa-tubuh ini akan menjadi bagian orang percaya selamanya di dalam langit dan bumi baru (Wahyu 21-22).

Kedua, bagi mereka yang belum menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat, kematian berarti hukuman kekal. Sama halnya dengan takdir orang-percaya, orang tidak percaya juga sepertinya dikirim ke tempat penampungan sementara, sambil menunggu kebangkitan mereka kepada penghakiman, dan nasib kekal.

Lukas 16:22-23 menggambarkan orang kaya yang langsung menderita setelah mati. Wahyu 20:11-15 menggambarkan semua orang tidak percaya dibangkitkan dari kematian, dihakimi di takhta putih agung, dan kemudian dilemparkan ke danau api. Jika demikian, orang tidak percaya tidak langsung dikirim ke neraka (danau api) setelah kematian, melainkan mereka berada di suatu tempat penghakiman sebagai tertuduh.

Meskipun orang tidak percaya tidak langsung dikirim ke danau api, nasib mereka setelah kematian bukan kondisi yang nyaman. Orang kaya itu berteriak, “aku sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Lukas 16:24).

Jadi, setelah kematian, seseorang berdiam di dalam surga atau neraka “sementara.” Dari tempat penampungan sementara ini, pada kebangkitan akhir, takdir seseorang tidak akan berubah. “Lokasi” tujuan akhir itu yang berubah.

Orang-percaya akan diperbolehkan masuk ke dalam langit dan bumi baru (Wahyu 21:1). Orang tidak percaya pada akhirnya dikirim ke danau berapi-api (Wahyu 20:11-15). Ini adalah tujuan akhir yang kekal bagi semua orang – yang berdasarkan apakah mereka mempercayai Yesus Kristus untuk keselamatan mereka (Matius 25:46; Yohanes 3:36).

Baca lebih lanjut: http://www.gotquestions.org/Indonesia/terjadi-setelah-kematian.html#ixzz3v6dBGSdU

ady suwanda on December 23rd, 2015

Pertanyaan: Apakah ada tingkat-tingkat lapisan yang berbeda di neraka?

Jawaban: Gagasan tentang adanya lapisan tingkat-tingkat hukuman di neraka berasal dari The Divine Comedy yang ditulis oleh Dante Alighieri, sekitar 1308 dan 1321. Di dalamnya, dikisahkan kalau penyair Roma Virgil memandu Dante melalui kesembilan lingkaran neraka.

Lingkaran-lingkaran itu mempunyai satu titik pusat, di mana ada satu lingkaran kejahatan yang secara berangsur-angsur, dan kemudian memuncak kepada pusat dari bumi, di mana Setan ditahan dalam perbudakan.

Masing-masing orang berdosa dalam lingkaran itu dihukum dengan cara yang disesuaikan dengan kejahatan mereka. Setiap orang berdosa dihukum dalam kekekalan tergantung dosa mana yang sering dia lakukan.

Menurut Dante, lingkaran pertama itu merupakan tempat di mana para penyembah berhala dibuang, sampai kemudian di lingkaran yang paling tengah disediakan bagi mereka yang melakukan kejahatan terberat—pengkhianatan terhadap Allah.

Walaupun tidak secara khusus dinyatakan, Alkitab mengindikasikan ada tingkat-tingkat hukuman yang berbeda di neraka.

Dalam Wahyu 20:11-15, orang-orang dihakimi “menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu” (Wahyu 20:12). Semua orang dalam penghakiman ini akan dilemparkan ke dalam lautan api (Wahyu 20:13-15). Sehingga, barangkali, maksud dari penghakiman itu untuk menggambarkan betapa dahsyatnya hukuman dalam neraka.

Apapun kasusnya, dilemparkan ke dalam lautan api yang agak sedikit kurang panas juga bukan penghiburan bagi mereka yang masih dihukum mati untuk selama-lamanya. Apapun tingkat hukuman yang ada di neraka, jelas bahwa neraka adalah tempat yang patut dihindari.

Sayangnya, Alkitab menyatakan bahwa kebanyakan manusia akan berakhir di neraka.

“…Karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:13-14).

Pertanyaan yang harus ditanyakan adalah “di jalan yang manakah saya berada?” “Yang banyak” di jalan yang luas memiliki satu hal yang sama—mereka semua telah menolak Kristus sebagai satu-satunya jalan ke surga.

Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Ketika Dia berkata kalau Dia adalah jalan satu-satunya, itu berarti sungguh-sungguh betul apa yang Dia maksudkan. Setiap orang yang mengikuti “jalan” selain Yesus Kristus pasti ada di jalan yang luas yang menuju kebinasaan, terlepas dari pakah ada tingkat-tingkat hukuman yang berbeda di neraka.

Penderitaan di neraka itu mengerikan, menakutkan, kekal, namun dapat dihindari.

Baca lebih lanjut: http://www.gotquestions.org/Indonesia/tingkat-neraka.html#ixzz3v6b0AcDW

ady suwanda on December 23rd, 2015

Pertanyaan: Seperti apa keadaan Sorga itu?

Jawaban: Sorga adalah tempat yang nyata yang digambarkan dalam Alkitab. Kata “sorga” ditemukan 276 kali di dalam Perjanjian Baru sendiri. Alkitab menunjuk kepada tiga sorga. Rasul Paulus “diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga,” tetapi dia dilarang untuk menyingkapkan apa yang dia alami di sana (2 Korintus 12:1-9).

Kalau ada sorga ketiga, maka pasti ada dua sorga yang lain. Yang pertama adalah yang paling sering disebut dalam Perjanjian Lama sebagai “langit” atau “cakrawala.” Ini adalah sorga yang terdiri dari awan-awan, tempat di mana burung-burung terbang. Sorga yang kedua adalah angkasa luar, yang adalah tempat bintang-bintang, planet-planet, dan benda-benda angkasa lainnya (Kejadian 1:14-18).

Sorga ketiga, tempat yang tidak disingkapkan, adalah tempat kediaman Allah. Yesus berjanji untuk menyediakan tempat bagi orang Kristen yang sejati di sorga (Yohanes 14:2). Sorga juga adalah tujuan orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama yang mati dan percaya akan janji Allah tentang Penebus (Efesus 4:8). Siapa saja yang percaya kepada Kristus tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Rasul Yohanes mendapat kehormatan untuk melihat dan melaporkan mengenai kota sorgawi (Wahyu 21:10-27). Yohanes menyaksikan bahwa sorga (bumi yang baru) penuh dengan “kemuliaan Allah” (Wahyu 21:11), kehadiran Allah. Karena sorga tidak ada malam dan Tuhan sendiri adalah terang, matahari dan bulan tidak lagi diperlukan (Wahyu 22:5).

Kota itu dipenuhi dengan kilauan batu yang berharga dan permata kristal yaspis. Sorga memiliki dua belas pintu gerbang (Wahyu 21:12) dan dua belas batu dasar (Wahyu 21:14). Firdaus Taman Eden akan dipulihkan: sungai air kehidupan mengalir keluar dengan bebas dan pohon kehidupan kembali tersedia, menghasilkan buah tiap bulan sekali dengan daun-daun yang “menyembuhkan bangsa-bangsa” (Wahyu 22:1-2). Bagaimanapun indahnya Yohanes dalam penggambarannya tentang sorga, realita sorga adalah melampaui kemampuan manusia yang terbatas untuk melukiskannya (1 Korintus 2:9).

Sorga adalah tempat “tidak lagi.” Tidak akan ada lagi air mata, tidak ada lagi kesakitan, dan tidak ada lagi penderitaan (Wahyu 21:4). Tidak akan ada lagi pemisahan, karena kematian akan ditaklukkan (Wahyu 20:6). Hal yang terbaik mengenai sorga adalah kehadiran Tuhan dan Juruselamat kita (1Yohanes 3:2). Kita akan berhadapan muka dengan muka dengan Domba Allah yang mengasihi kita dan telah mengorbankan Diri-Nya sendiri supaya kita dapat menikmati kehadiran-Nya dalam sorga untuk selama-lamanya.

ady suwanda on December 23rd, 2015

Pertanyaan: Apa itu Islam? Apa yang dipercaya oleh orang Muslim?

Jawaban: Agama Islam lahir di awal abad ke-7 Masehi, oleh seorang yang bernama Muhammad. Dia mengaku mendapat kunjungan dari malaikat Jibril. Selama kunjungan malaikat ini, yang berlangsung selama 23 tahun sampai wafatnya Muhammad, malaikat ini dipercayai mewahyukan kepadanya firman Allah.

Wahyu yang didiktekan ini nantinya akan menjadi isi Qur’an, kitab suci Islam. Islam mengajarkan bahwa Qur’an merupakan otoritas tertinggi dan wahyu terakhir Allah.

Orang-orang Muslim, penganut Islam, percaya bahwa Qur’an itu merupakan firman Allah yang terakhir dan sempurna. Selain itu, banyak orang Muslim yang menolak Qur’an dalam versi bahasa lainnya. Terjemahan bukanlah versi yang sah dari Qur’an; yang hanya tersedia dalam bahasa Arab.

Meskipun Qur’an merupakan kitab suci yang utama, Sunnah dipandang sebagai sumber kedua untuk pengajaran agama. Sunnah ditulis oleh sahabat-sahabat Muhammad tentang apa yang dikatakan, dilakukan dan disetujui oleh Muhammad.

Kepercayaan utama Islam itu menyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah; yang esa dan sejati, dan Muhammad merupakan rasul Allah. Cukup dengan mengucapkan kepercayaan ini, seseorang langsung dianggap memeluk agama Islam.

Kata “Muslim” itu sendiri berarti “orang yang takluk kepada Allah.” Islam menganggap diri sebagai satu-satunya agama yang benar yang menjadi sumber dari semua agama lain, termasuk Yudaisme dan kekristenan.

Orang-orang Muslim mendasari kehidupan mereka pada lima rukun:

1. Pernyataan iman/syahadat: “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan (Rasul) Allah.”

2. Sholat: sholat lima kali dalam sehari

3. Zakat: manusia harus memberi kepada mereka yang miskin, karena semuanya yang ada pada mereka merupakan pemberian Allah.

4. Puasa: selain berpuasa pada waktu tertentu, semua orang Muslim harus berpuasa saat merayakan Ramadan (bulan kesembilan dalam kalender Islam).

5. Haji: berziarah ke Mekkah paling sedikit sekali seumur hidup (pada bulan kedua belas dalam kalender Islam).

Kelima dasar ini, kerangka dari ketaatan orang Muslim, diperlakukan dengan serius dan harafiah. Masuknya seorang Muslim ke firdaus itu dianggap bergantung pada ketaatannya kepada kelima rukun ini.

Dalam hubungannya dengan kekristenan, Islam memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan yang mendasar.

Sama seperti kekristenan, Islam bersifat monotheistik, namun berlawanan dengan kekristenan, Islam menolak konsep Tritunggal. Islam menerima bagian-bagian tertentu yang tertulis di Alkitab, seperti Taurat dan Injil, namun menolak bagian lainnya sebagai fitnah dan bukan diilhamkan dari Allah.

Islam mengklaim bahwa Yesus merupakan seorang nabi, bukan Anak Allah. Orang Islam percaya satu-satunya Tuhan itu adalah Allah, karena itu, bagaimana mungkin Dia bisa punya Anak? Islam menganggap Yesus, meskipun lahir dari anak perawan, diciptakan sama halnya dengan Adam, dari debu tanah.

Orang-orang Muslim percaya bahwa Yesus tidak pernah mati di salib; dan karena itu mereka menolak salah satu pengajaran utama keKristenan.

Akhirnya, Islam mengajarkan bahwa Firdaus bisa dicapai melalui perbuatan baik dan ketaatan kepada Qur’an. Sebaliknya, Alkitab, mengungkapkan bahwa manusia tidak dapat memenuhi standar kekudusan Allah. Hanya karena anugerah dan kasih-Nya, orang-orang berdosa dapat diselamatkan melalui iman di dalam Kristus (Efesus 2:8-9).

Jelas, bahwa tidak mungkin Islam dan kekristenan bisa sama-sama benar. Cuma bisa salah satu, Yesus atau Muhammad, merupakan nabi terbesar. Cuma bisa salah satu, Alkitab atau Qur’an, yang merupakan Firman Allah.

Keselamatan diperoleh manusia melalui imannya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, atau dengan menaati kelima rukun.

Sekali lagi, tidak mungkin kedua agama ini bisa sama benarnya. Kebenaran ini, memisahkan kedua agama dalam aspek-aspek penting, yang tentunya akan memiliki konsekuensi kekal.

ady suwanda on December 23rd, 2015

Paralanguage adalah ilmu bahasa yang mempelajari suara atau vocal dari sudut pandang non verbal yakni: volume (keras atau lembutnya suara), rate (cepat atau lambatnya suara), pitch (tinggi atau rendahnya suara), dan tone (kuat dan lemahnya suara). Paralanguage selalu memberikan isyarat tertentu saat kita berkomunikasi. Kita bisa mengerti apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan dari teman bicara kita lewat paralanguage karena makna dari suatu kata bisa berbeda jika paralanguage-nya berbeda.
Contoh :
1) ketika sang suami memanggil dengan mesra “sayaang..” maka sang istri sudah mengetahui bahwa suaminya memanggil dia.
2) Istri saya memanggil putri kami dengan kata “…Alicia…”, pasti saya mengerti bahwa istri saya sedang memanggil putrinya dengan mesra. Namun, bila istri saya memanggilnya dengan “…A-LICIA…!!!”, dengan serta merta saya tahu bahwa istri saya pasti sedang marah pada putrinya.

ady suwanda on December 23rd, 2015

Model Gudykunst dan Kim

Model William B. Gudykunst dan Young Yun Kim sebenarnya merupakan model komunikasi antarbudaya, yakni komunikasi antara orang-orang yang berasal dari budaya yang berlainan, atau komunikasi dengan orang asing (stranger).
Seperti model Tubbs, model Gudykunst dan Kim mengasumsikan dua orang yang setara dalam berkomunikasi, masing-masing sebagai pengirim dan sekaligus sebagai penerima, atau keduanya sekaligus melakukan penyandian (encoding) dan penyandian-balik (decoding). Karena itu, tampak pula bahwa pesan suatu pihak sekaligus juga adalah umpan balik bagi pihak lainnya. Dan hal itu menunjukkan bahwa setiap kita berkomunikasi, secara serentak kita menyandi dan menyandi balik pesan. Dengan kata lain, komunikasi tidak statis, kita tidak menyandi suatu pesan dan tidak melakukan apa-apa hingga kita menerima umpan balik. Alih-alih kita memproses rangsangan yang datang (menyandi-balik) pada saat kita juga menyandi pesan.

Menurut Gudykunst dan Kim, penyandian pesan dan penyandian-balik pesan merupakan proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter-filter konseptual yang dikategorikan menjadi faktor-faktor budaya, sosiobudaya, psikobudaya dan faktor lingkungan.

Pengaruh budaya dalam model itu meliputi faktor-faktor yang menjelaskan kemiripan dan perbedaan budaya, misalnya pandangan dunia (agama), bahasa, juga sikap kita terhadap manusia, misalnya apakah kita harus peduli terhadap individu (individualism) atau terhadap kelompok (kolektivisme). Faktor-faktor tersebut mempengaruhi nilai, norma dan aturan yang mempengaruhi prilaku komunikasi kita. Pengaruh sosiobudaya adalah pengaruh yang menyangkut proses penataan sosial (sosial ordering process).

Penataan sosial berkembang berdasarkan interaksi dengan orang lain ketika pola-pola perilaku menjadi konsisten dengan berjalannya waktu. Sosiobudaya ini terdiri dari empat faktor utama: keanggotaan diri dalam kelompok sosial, konsep diri kita, ekspektasi peran kita, dan definisi kita mengenai hubungan antarpribadi. Dimensi psikobudaya mencakup proses penataan pribadi (personal ordering process). Penataan pribadi ini adalah proses yang memberi stabilitas pada proses psikologis. Faktor-faktor psikobudaya ini meliputi stereotip dan sikap (seperti etnosentrisme dan prasangka) terhadap kelompok lain. Stereotip dan sikap kita menciptakan penghargaan mengenai bagaimana orang lain akan berperilaku.

Pengharapan kita itu pada gilirannya mempengaruhi cara kita menafsirkan rangsangan yang datang dan prediksi yang kita buat mengenai perilaku orang lain. Lingkungan mempengaruhi kita dalam menyandi dan menyandi-balik pesan. Lokasi geografis, iklim, situasi arsitektural (lingkungan fisik), dan persepsi kita atas lingkungan tersebut, mempengaruhi cara kita menafsirkan rangsangan yang dating dan prediksi yang kita buat mengenai perilaku orang lain. Oleh karena orang lain mungkin mempunyai presepsi dan orientasi yang berbeda terhadap lingkungan, mereka mungkin menafsirkan perilaku dengan cara yang berbeda dalam situasi yang sama.